03 Mei, 2013

Carpe Diem ˆ⌣ˆ

Carpe Diem - by:Martinus Leo Gunardi

Carpe diem, adalah sebuah frasa dalam bahasa Latin yang artinya adalah: "Petiklah hari." (Horatius) Kalimat lengkapnya adalah: "carpe diem, quam minimum credula postero" yang berarti: "petiklah hari dan percayalah sedikit mungkin akan hari esok."

Maksud kata-kata ini adalah orang dianjurkan untuk hidup memanfaatkan hari ini secara lebih optimal tidak menunda sesuatu untuk hari esok, dengan begitu kita lebih dapat memanfaatkan waktu yang diberikan secara optimal.

Kalimat ini sering disalahartikan sebagai "makan dan minumlah, karena esok kita mati".

CARPE DIEM

Saya menemukan sebuah kutipan dari Mark Twain tentang pentingnya memegang kesempatan. Kutipan itu berbunyi, “Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” Iseng-iseng, saya menaruh kutipan ini di status Facebook saya. Tidak disangka, teman saya sewaktu masih bekerja di MarkPlus memberi comment yang singkat tapi cukup membuat saya penasaran untuk mencari tahu artinya yaitu “Seize the day! Carpe Diem!” Karena penasaran, saya coba cari di google arti dari frase terakhir.

Saya berhasil menemukan terjemahan dari bahasa latin ini di Wikipedia. Carpe diem adalah sebuah frase yang berasal dari puisi latin yang ditulis oleh Horace yang bunyi lengkapnya adalah, “Carpe diem quam minimum credula postero” yang artinya adalah ”seize the day and place no trust in tomorrow”. Kutipan puisi ini mencoba untuk mengingatkan pentingnya untuk menggunakan kesempatan hari ini karena kita tidak tahu apakah masih punya kesempatan besok.

ALASAN-ALASAN PENUNDAAN
Penundaan adalah salah satu kebiasaan buruk yang banyak diidap oleh banyak orang (bahkan di Facebook, saya pernah menemukan grup “Procrastination” – dan grup ini memiliki hampir 1000 anggota!). Kenapa kita suka menunda suatu pekerjaan? Saya pernah baca sebuah buku yang saya pinjam di perpustakaan gereja mengenai masalah penundaan ini. Sudah agak lama sejak saya membacanya tapi kurang lebih saya masih ingat isi buku ini. Menurut buku ini dan sumber lainnya, penundaan, pada intinya, dapat disebabkan oleh:

Pertama, adalah rasa malas. Karena tidak ada suatu batas waktu yang mengikat, kita menunda melakukannya. Bisa juga karena kita harus mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak kita sukai.

Kedua, takut mengambil resiko seperti yang dikatakan dalam kutipan Mark Twain di atas. Tidak jarang penundaan dikarenakan hal ini. Contohnya, seorang pemuda yang menunda untuk “pdkt” dengan gadis incarannya karena takut ditolak. Bisa ditebak, orang seperti ini akan terus jomblo untuk waktu lama sementara si gadis jadi milik orang lain.

Ketiga, orang-orang yang suka menunda memilki berpikir masih ada kesempatan di esok hari. Alasan ini juga cukup banyak digunakan. Contohnya, adalah dalam pelayanan. Banyak orang yang berpikir baru akan terlibat di dalam pelayanan pada waktu sudah “mapan”. Akhirnya setelah mapan pun tetap tidak bisa melayani karena sudah tua, tidak bertenaga, dan malahan sakit-sakitan.

Pada waktu masa orientasi mahasiswa di kampus, ada satu sesi mengenai time management. Sebagai seorang mahasiswa baru, kami dirasa perlu untuk beradaptasi dengan kehidupan sebagai mahasiswa. Salah satunya adalah dalam hal menggunakan “kebebasan” waktu yang kami miliki. Kalau dulu di SMA, kami harus mengikuti segala jadwal yang ada, sekarang kami lebih bebas mengatur waktu kami.

Dalam sesi ini, dijelaskan pada intinya time management berbicara mengenai apa yang penting dan apa yang mendesak. Apabila dijabarkan dalam suatu matriks, akan diperoleh hubungan:
• Ada kegiatan yang penting dan mendesak.
• Ada kegiatan yang penting dan tidak mendesak.
• Ada kegiatan yang tidak penting dan mendesak.
• Ada kegiatan yang tidak penting dan tidak mendesak.


Yang terjadi adalah banyak dari kita yang suka menunda melakukan “kegiatan yang penting dan tidak mendesak”. Apa contohnya? Contohnya adalah olahraga. Kita semua tahu olah raga tuh bagus banget dan banyak manfaatnya buat kesehatan kita, tapi kita suka menundanya sampai akhirnya penyakit mulai berdatangan atau kita baru menyadari celana jeans kita sudah tidak muat lagi. Contoh lainnya, adalah kebiasaan mahasiswa (golongan deadliners..haha) untuk mengerjakan tugas atau belajar untuk kuis atau ujian mendekati waktunya (menurut pengakuan beberapa teman yang masuk dalam golongan ini, kondisi terdesak membantu meningkatkan adrenalin mereka sehingga mampu menyerap pelajaran dengan cepat – omong-omong saya tidak tahu dari mana teori ini dan tidak yakin dengan keabsahan korelasi antara endorfin dengan kemampuan otak menyerap pelajaran..hahaha)

Kita perlu mengenali apa alasan kita menunda suatu pekerjaan? Apa karena ada pekerjaan lain yang lebih penting untuk dilakukan? Atau karena kita malas melakukannya?

KERUGIAN DARI PENUNDAAN
Saya pernah baca kalau kita menunda suatu pekerjaan ada beberapa kerugian yang sebenarnya kita dapatkan, di antaranya adalah:

Pertama, pekerjaan yang ditunda akan menjadi beban pikiran kita. Contohnya, saya mengusahakan untuk menyelesaikan tugas mengedit artikel untuk Warta Sejati di Minggu pagi. Setelah artikel ini selesai, saya dapat lebih tenang untuk melakukan aktivitas lainnya seperti pergi ke perpus atau nge-gym tanpa ada perasaaan masih dihantui oleh ”utang” yang harus saya lunaskan.

Kedua, teman saya pernah bilang kalau pekerjaan yang ditunda itu akan ”berbunga”. Artinya, penundaan mengerjakan suatu tugas seringkali menyebabkan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya menjadi lebih lama. Saya merasa sekali pada waktu harus mengedit suatu tulisan, karena saya menunda menyelesaikan, saya harus habiskan waktu lebih lama untuk mengecek dari awal tulisan karena saya tidak ingat bagian-bagian mana yang sudah dicek.

Ketiga, pekerjaan yang ditunda-tunda dapat menjadi penghalang kita untuk mengerjakan pekerjaan lain atau bahkan mengambil kesempatan baik. Contohnya, kita menunda menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya dapat kita kerjakan di hari Jumat siang. Ternyata, pada Jumat sore, kita mendapatkan undangan untuk menghadiri acara dari kolega kita. Akibatnya, kita tidak dapat mengikuti acara tersebut karena harus lembur.

Keempat, penundaan membuat kita kehilangan ”momentum”. Saya pernah membaca ternyata suatu ide bisnis yang brilian seringkali bukan suatu hal yang sama sekali bari. Ide ini mungkin sudah banyak orang yang memikirkannya, tapi hanya sedikit orang yang berani untuk benar-benar mewujudkannya. Sisanya adalah orang yang menunda mengeksekusi ide ini karena menunggu ”waktu baik”. Penulis Amsal berkata bahwa orang pemalas punya alasan-alasan yang seringkali tidak masuk akal untuk menghentikan penundaannya: ” Si pemalas berkata: ’Ada singa di luar, aku akan dibunuh di tengah jalan.’” (Amsal 22:13).

TIPS MENGATASI PENUNDAAN

Saya ingin membagikan beberapa tips bagaimana caranya untuk mengurangi kebiasaan menunda (yang masih saya belajar untuk terapkan juga..hehe).

Pertama, mengutip dari buku ”The 7 Habits of Highly Effective People” nya Stephen R Covey yaitu Put First Things First , sempatkan untuk membuat rencana harian mengenai apa-apa yang harus anda lakukan. Dari daftar ini, urutkan pekerjaan yang harus dilakukan berdasarkan skala prioritasnya. Biasanya orang lebih suka mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang mudah walaupun bukan suatu yang penting dan mendesak. Biasanya dikarenakan untuk mendapatkan rasa pencapaian karena sudah mengerjakan banyak pekerjaan. Ubah kebiasaan ini, lakukan apa yang benar-benar penting. Jangan sampai kita kehabisan waktu untuk mengerjakan apa yang benar-benar penting.

Kedua, tetapkan batas waktu atau deadline. Yang sulit adalah kalau pekerjaan yang kita tunda adalah pekerjaan yang tidak perlu kita pertanggungjawabkan kepada orang lain. Biasanya kita akan lebih toleran terhadap diri kita. Contohnya ya untuk disiplin berolahraga. Kalau kita bolos untuk nge-gym, tidak akan ada yang memarahi kita karena pertanggungjawabannya adalah ke diri kita sendiri. Saya baru baca di Men’s Health terbaru, di situ ada artikel mengenai tips-tips untuk tetap termotivasi pergi ke gym. Salah satu ide yang saya suka adalah ide untuk ”menantang” orang lain. Misalkan, kita menantang teman kita untuk menurunkan berat badan dan yang kalah harus mentraktir yang menang. Dengan cara ini, kita akan lebih termotivasi dan secara otomatis akan mengurangi penundaan.

Cara lainnya adalah dengan memberitahukan deadline anda kepada orang lain. Misalnya, setiap minggunya, saya akan membuat minimal satu tulisan. Akan lebih baik kalau orang yang anda beri tahu adalah orang yang anda ”takuti” atau ”orang-yang-akan-membuat-anda-merasa-malu-apabila-tidak-berhasil-menepati-janji-anda”

Ketiga, sadari tidak pernah ada ”waktu ideal” dan jangan takut gagal, berani untuk ambil resiko. C.S Lewis penulis The Chronicles of Narnia, pernah mendapatkan kritikan untuk buku pertamanya dari J.R Tolkien, penulis buku The Lord of The Ring. Tapi, kita bisa lihat C.S Lewis tidak mundur dan tetap menulis sehingga lahirlah 6 buku lainnya.

Kenichi Ohmae, seorang ahli corporate strategy terkemuka, pernah mengatakan, ”…sometimes it’s better to do something that’s almost right rather than wait for the perfect solution and miss the strategic opportunity”. Jadi, moral of the story dari poin ini adalah jangan menunda melakukan sesuatu karena terlalu takut gagal. Tentu saja, sebelum terjun ke sebuah kolam, harus diukur terlebih dahulu airnya, tapi jangan kelamaan!

So, semoga tips-tips di atas bisa membantu untuk mengatasi penundaan. Jangan sampai ada suatu penyesalan karena kita terus menunda melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Saya sendiri masih belajar terus untuk mengatasi penundaan dan menjadi orang yang lebih efektif lagi…hehe

Yang jelas terakhir saya denger kata carpe diem ini waktu nonton film “Pirates of Sillicon Valley”. Kata ini diucapkan oleh Steve Jobs (Apple’s founding father) di depan ratusan karyawannya waktu pertama kali melaunch produk Macintosh untuk pertama kalinya.

You see, dalam hidup ini kita punya tiga macam hari : hari kemarin, hari ini, dan hari esok. Hari kemarin adalah hari yang sudah terjadi dan tidak bisa kita ubah lagi. Hari kemarin ‘hanya’ bisa kita jadikan sebagai pelajaran dan ambil hikmahnya, tetapi kita tidak bisa lagi melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Hari esok adalah hari yang belum terjadi. Seringkali kita terlalu banyak menghabiskan energi dan waktu untuk mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi, seringkali kita terlalu pesimistis dan takut ketika memikirkan hari esok. Mahatma Gandhi pernah bilang : “The future depends on what we do in the present.” That means kita bisa menentukan sendiri bagaimana masa depan kita, kita sendiri yang menentukan akan jadi seperti apa hari esok kita. You are never given a wish without being given the power to make it come true!! So...Carpe diem!!!.... Rebutlah hari ini!!!... Dengan merebut hari ini, berarti kita telah merebut hari esok kita. Dengan berbuat sesuatu yang positif dan produktif hari ini, berarti kita telah menciptakan masa depan yang cerah untuk kita. Kita sendirilah yang menentukan takdir kita, bukan takdir yang mengendalikan kita. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin ;)

05 Desember, 2012

Jadi tuan atau hamba atas emosimu ˆ⌣ˆ

1 Samuel 18:8 Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya: "Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya."
9 Sejak hari itu maka Saul selalu mendengki Daud.


Kisah antara mertua yang membenci menantunya ini mengingatkan tentang pentingnya mengungkapkan dan menyelesaikan emosi yang tidak baik sesegera mungkin, bukan malah memeliharanya. Saul ga pernah mau ungkapin dan beresin rasa irinya pada Daud dan berujung kepada rasa ingin membunuh yang tinggi dari Saul, padahal jumpa pertama mereka Saul sangat menyayangi Daud lho :$

Secara normal ga ada orang yang mau menyakiti atau bahkan ingin membunuh orang lain kalau dia ga lagi dikuasai emosi tingkat akut. Ayo kita sama-sama belajar untuk ambil waktu tenang ketika emosi negatif meninggi, lalu alihkan emosi negatif menjadi emosi yang positif (pikirin hal-hal yang membuat kita damai). Belajar menjadi tuan atas emosi kita sendiri ˆ⌣ˆ

Emosi bisa menjadi tuan atau budak tergantung dari apakah Anda memiliki kemampuan sebagai tuan atau budak - Josua Iwan Wahyudi

04 Desember, 2012

Mana ekspresinyaaaa ...! ˆ⌣ˆ

Markus 14:34 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah." 

Pada tahun 1993, sebuah penelitian dilakukan oleh James Pennebeaker, seorang psikolog industri. Penelitian yang melibatkan 63 orang sales yang baru saja di PHK & dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 diharuskan menulis catatan harian & menceritakan pengalaman mereka setiap hari setelah di PHK, sementara kelompok 2 dibiarkan begitu saja. Let's see the result. 8 bulan kemudian kelompok 1 sejumlah 53 % sudah kembali mendapatkan pekerjaan & mereka lebih bersemangat dalam mencari pekerjaan baru. Sedang kelompok 2 hanya 18 % yang sudah mendapatkan pekerjaan lagi.

Kesimpulannya : dengan menuliskan perasaan mereka setiap hari kelompok 1 menjadi lebih menyadari perasaan & emosinya. Merasa khawatir dengan hidup tanpa penghasilan, malu menjadi pengangguran, dll sehingga menjadi terdorong untuk mencari solusi.

Banyak orang berusaha mengingkari & menyembunyikan emosi mereka padahal menyadari & menerima emosi adalah salah satu hal yang penting lho ˆ⌣ˆ
Banyak paradigma yang kita yakini & jadi penghambat emosi yang sehat, seperti :
- Cowok? Pantang donk nangis >:/
- Marah itu dosa :)
- Sedih itu ga rohani euy :p
- dll
Yesus sendiri pun curhat ketakutannya (padahal di kitab Markus ini Yesus dari awal digambarkan sebagai pribadi yang super, keras & tegas, beda sama kitab lain) :p

Karena itu kita butuh sahabat & komunitas yang bisa memahami & mengarahkan. Ketika ada masalah dan kesedihan masihkah kita lebih sering memendamnya sendirian? Berpikir dan berlaku seolah : ah, gpp lah ya. Gw kuat koq. Pantang deh minta-minta bantuan orang lain ( ˘͡ -˘͡)

Ga ada yang salah dengan tangisan, kekhawatiran, or ketakutan kita. Yang salah adalah kalau kita membiarkannya menguasai kita. Semakin Anda menyembunyikannya, justru perasaan itu semakin menguasai Anda. So? Show and tell Your emotion to right person from now on. Jia you! ˆ⌣ˆ

03 Desember, 2012

Makhluk spiritual

Kita bukanlah makhluk bumi yang memiliki sifat spiritual, tetapi kita adalah makhluk spiritual yang sedang mendiami bumi ˆ⌣ˆ

Informasi sebagai aset ˆ⌣ˆ

Amsal 25:11 Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.

Pengkotbah 3:7 ...ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;

Ada informasi yang harus dibagikan dan ada juga yang harus dijaga kerahasiaanya. Ayo sama-sama belajar untuk peka dan memperlakukan 2 jenis informasi ini secara tepat. Nite ˆ⌣ˆ

02 Desember, 2012

Relasi itu aset ˆ⌣ˆ

Kejadian 13:5 Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah.

Apa yang terlintas ketika mendengar kata : "Aset"? Banyak orang bilang itu berkaitan uang atau modal, tempat untuk kerja, properti / alat kerja, dll. Aset diidentikkan dengan sesuatu yang bisa ditukar dengan uang. Banyak orang lupa menyertakan relasi sebagai suatu aset karena mungkin relasi memang tidak bisa ditukar dengan uang. Namun seringkali relasi justru aset yang paling penting dibanding aset lainnya dan kabar buruknya menjadi aset yang sering diabaikan :p

Lot bukan siapa-siapa sebelum dia bareng sama Abram. Ketika dia mulai ikut bersama Abram maka hidupnya mulai berubah, mulai banyak ternak dan gembala-gembala sampai2 akhirnya wilayahnya ga muat dan harus berpisah dengan Abram. Aset Lot berawal bukan dari modal, uang, skill, dsb, namun berawal dari RELASI :D

Ayo sama-sama belajar untuk membangun relasi dengan orang lain dari berbagai jenis latar belakang sambil mengasah talenta kita, karena mungkin saja Tuhan membuka jalan hidup kita di masa depan melalui orang-orang yang kita temui. Jangan jadi orang yang cuma ngendok/diem aja di kamar kos atau warnet, pulang kuliah ngegame aja, makan pun delivery dan autis sendiri dengan dunianya. Diajakin kemana dan lakuin kegiatan apa bersama orang lain ditanggapi dengan cuek bebek dan malas.
Walau orang ini cerdas luar biasa, Tuhan juga bingung gimana mau bukain berkatnya kalau kerjanya dia begitu doank :p he he he

Keberhasilan seseorang kerap terjadi di saat ia bertemu dan menjalin hubungan dengan relasi/orang lain (^_^)♉

01 Desember, 2012

Alat atau aset ˆ⌣ˆ

2 Samuel 23:17 katanya: "Jauhlah dari padaku, ya TUHAN, untuk berbuat demikian! Bukankah ini darah orang-orang yang telah pergi dengan mempertaruhkan nyawanya?" Dan tidak mau ia meminumnya. Itulah yang dilakukan ketiga pahlawan itu.

Google dinobatkan sebagai "The Best Company to Work For" (perusahaan yang memiliki tingkat kepuasan karyawan paling tinggi). Google tidak memberikan kepuasan hanya kepada customer (pelanggan saja), tetapi juga internal customer yaitu karyawannya. Menariknya kepuasan karyawan Google ini bukan soal gaji yang mereka terima, tapi lebih kepada sikap perusahaan memperlakukan mereka. Mengapa Google bisa begitu concern memberikan kepuasan kepada karyawan? Karena Google menganggap karyawan sebagai aset, bukan sekadar alat :D

Daud merupakan salah seorang pemimpin yang disayang sama anak buahnya dan para pengikutnya begitu loyal karena Daud menganggap anak buah bukan alat, tapi merupakan rekan kerja dan aset. Daud mau membimbing, menuntun, dan mengasihi tentara-tentaranya sehingga orang-orang suram di gua Adulam itu bermetamorfosis menjadi para pahlawan yang luar biasa (y)

Mungkin kita dipercayakan suatu tanggung jawab di dalam memimpin orang lain. Apakah kita memandang mereka sebagai alat atau aset? Sebagai anak buah yang bisa disuruh suruh atau rekan sekerja yang saling membantu dan memperlengkapi di dalam menyelesaikan misi kita? Yuk sama-sama belajar memiliki hati yang melayani ketika memimpin. Percaya akan ada dampak yang berbeda ketika kita terapkan hal ini bersama (^_^)♉

Kepemimpinan bukan berdasarkan POSISI, tapi PENGARUH kita untuk membawa orang lain ke level yang lebih baik #KataMaxwell ˆ⌣ˆ

Blog Stat